.

10/20/2009

Facebook sebagai Media Marketing

Diposting oleh JAKDES DISTRO CLOTHING |

fesbukBlog Anda mulai sepi pengunjung? Atau pesan email dari rekan atau milist di Inbox Anda mulai berkurang setiap harinya? Saya mengalaminya. Sejak beberapa bulan terakhir ini blog ini semakin hari semakin sepi pengunjung, jangankan komentar, yang berkunjung sekarang cuma di bawah kisaran 20 unique visitor. Dulu blog ini tidak sulit mendatangkan pengujung di atas 100 orang per hari. Meski jarang blogwalking, tetapi teman-teman yang pada saat blog sedang berjaya membuat blog ini sempat ramai beberapa bulan. Demikian pula komentar, meski tidak banyak, tapi untuk ukuran blog yang ditulis sebagai sebuah catatan perjalanan hidup, mendapatkan komentar kadang mencapai 40 untuk sebuah posting, hmmmmm lumayanlah.

Nasib inbox email juga tidak jauh berbeda. Dulu, ketika lepas sehari saja dari laptop, keesokan harinya bisa kerepotan untuk sekedar melakukan seleksi terhadap email yang masuk. Friendster, apalagi??? Kini kadang sebulan tidak buka friendster.

Tapi kini, blog dan inbox mulai sepi. Salah satu penyebabnya ternyata Facebook. Ya, biang keladinya ternyata Facebook, sebuah website jaringan pertemanan hasil pemikiran dan kerja keras Mark Zuckerberg yang kini menjadi begitu populer. Apalagi semenjak dimanfaatkan oleh Barack Obama untuk menjaring dukungan dalam memenangkan pemilihan presiden Amerika. Facebook semakin menancapkan kekuatannya dalam dunia maya pertemanan.
Hari gini gak punya Facebook? Katrok, daftar sana! Begitu kata adik-adik saya di kost-kostan ketika temannya tidak tahu apa itu Facebook. Memang, interaksi di Facebook kadang membuat penggunanya ketagihan. Facebook yang kaya aplikasi memungkinkan para penggunanya melakukan berbagai kegiatan dan interaksi dengan pengguna lainnya. Mulai dari main game, saling nge-tag foto, berkirim pesan, chatting, membentuk group yang sesuai minat atau latar belakang lainnya.

Lantas, makin lama kelihatannya Facebook seakan memonopoli pergaulan sosial di internet (social networking). Dengan beragam aplikasi di belakang Facebook membuatnya lebih menjadi pilihan dibanding situs-situs social networking lainnya sperti MySpace, Hi5, Friendster dan lainnya.

Ini lantas menjadi bukti, bahwa sosialisasi antar manusia ternyata begitu penting. Semakin mudahnya sosialisasi di Facebook membuatnya semakin menjadi idola. Hal ini tidak terlepas pula dari keinginan setiap individu untuk berinteraksi dengan individu lainnya. Selain karena ada hubungan kekerabatan dan persamaan latar belakang, juga untuk kepentingan lain, misalnya untuk media kampanye. Yang terakhir ini sih cuma numpang lewat, hanya memanfaatkan Facebook secara musiman. Ada lagi yang memanfaatkannya untuk media promosi dan sebagai world of mouth marketing.

Di era New Wave Marketing (meminjam istilahnya Hermawan Kartajaya), Facebook mampu menjadi salah satu media yang berperan besar. Dengan kemudahan bersosialita ala Facebok, kadangkala pengambilan keputusan oleh seseorang terkadang dipengaruhi oleh apa yang disaring dari hasil mengamati perilaku orang lain dalam satu komunitas. Misalkan saja, saya membeli laptop dengan merek tertenu, dan baru beberapa minggu saya pakai ternyata laptop tadi rusak entah karena apa. Saya tuliskan di status saya di Facebook, dalam hitungan menit bisa-bisa puluhan teman melakukan komentar terhadap permasalahan saya. Nah dari sini secara tidak langsung, apa yang diungkapkan dalam komentar-komentar itu memberikan pengaruh kepada member lainnya untuk mengambil keputusan membeli laptop seperti laptop saya…

Demikian juga sukses besar Obama, tidak terlepas dari era marketing New Wave ini. Ketika yang lain berlomba-lomba mencari donasi dalam jumlah besar, kenyataanya dengan sumbangan 5 dollar dari seorang fans Obama yang berjumlah jutaan orang bisa terkumpul jutaan dollar. Nah, terbayang kan betapa kuatnya komunitas.
Apa pelajarannya:
Jangan remehkan kekuatan sosial dan jaringan. Ikut atau Anda ketinggalan


sumber ayobisnis.com

10/20/2009

Memulai Bisnis Tanpa Uang Tunai

Diposting oleh JAKDES DISTRO CLOTHING |




Mungkinkah kita memulai bisnis tanpa memiliki uang tunai? Saya kira itu mungkin saja. Mengapa tidak! Jika kita mampu mengoptimalkan pemikiran kita, maka banyak jalan yang bisa ditempuh dalam menghadapi masalah permodalan untuk kita memulai bisnis. Cuma masalahnya, dari mana duit itu berasal? Logikanya, semua bisnis itu membutuhkan modal uang.

Memang, kebanyakan kita selalu mengeluhkan ketiadaan modal uang sebagai alasan mengapa kita “enggan” berwirausaha. Padahal, modal yang paling vital sebenarnya bukanlah uang, tetapi modal non-fisik, yakni berupa motivasi dan keberanian memulai yang menggebu-gebu.

Saya yakin, jika hal itu bisa terpenuhi, maka mencari modal uang bukanlah persoalan yang tidak mungkin, mesti secara pribadi kita tidak memiliki uang. Sementara kita telah tahu, bahwa peluang bisnis telah ada di depan mata. Tentu, alangkah baiknya jika kita tidak menundanya untuk memulai berbisnis.

Toh kita tahu, bahwa sebenarnya banyak sumber permodalan. Seperti uang tabungan, uang pesangon, pinjam di bank, dan di koperasi atau dari lembaga keuangan, atau dari pihak lainnya. Namun, jika kita ternyata tidak memikili uang tabungan, uang pesangon, atau katakanlah belum ada keberanian untuk meminjam uang ke bank atau koperasi, saya kira kita juga tidak terlalu risau. Karena ada cara untuk kita memulai bisnis, mesti kita tidak memiliki uang tunai sekalipun.

Contohnya, kita bisa menjadi seorang pelantara. Misalnya, menjadi pelantara jual bile rumah, jual motor dan lain-lain. Keuntungan yang kita dapat bisa dari komisi penjualan atau dari cara lain atas kesepakatan kita dengan pemilik produk. Saya yakin, kita pasti bisa melakukannya.

Kita bisa juga membuat usaha dengan cara konsumen melakukan pembayaran dimuka. Dalam hal ini, kita bisa mencari bisnis di mana konsumen yang jadi sasaran bisnis kita itumau membayar atau mengeluarkan uang dulu sebelum proses bisnis, baik jasa maupun produk, itu terjadi. Misalnya bisa dilakukan pada bisnis jasa, seperti industri jasa pendidikan. Di mana, siswa diwajibkan membayar dulu di depan sebelum proses pendidikannya itu terjadi.

Bisa juga misalnya, ada orang yang memesan barang pada kita, namun sebelum barang yang dipesan itu jadi, pihak konsumen memberikan uang muka dulu. Artinya, ini sama saja kita telah diberi modal oleh konsumen.

Masih ada cara lain memulai bisnis tanpa kita memiliki uang tunai. Contohnya, menggunakan sistem bagi hasil. Biasanya, cara bisnis model ini banyak diterapkan pada Rumah Makan Padang. Di mana kita sebagai orang yang memiliki keahlian memasak, sementara patner bisnis kita sebagai pemilik modal uang.

Kita bekerjasama dan keuntungan yang didapat pun dibagi sesuai kesepakatan bersama. Atau kita mungkin ingin cara lain? Tentu masih ada. Contohnya, kita bisa melakukannya dengan sistem barter dengan pemasok, dan kita pun jika memiliki keahlian tertentu, mengapa tidak saja menjadi seorang konsultan. Selain itu, bisa saja dengan cara kita mengambil dulu produk yang akan diperdagangkan, hanya untuk pembayarannya bisa kita lakukan setelah produk tersebut terjual pada konsumen. Tentu, masih banyak cara lain untuk kita memulai bisnis tanpa uang tunai.

Oleh karena itu, menurut saya, sebaiknya kita tidak perlu berkecil hati atau takut dipandang rendah, bila ternyata kita memang tidak memiliki uang tunai namun berhasrat untuk memulai bisnis. Saya yakin dengan kita memiliki kemauan besar menjadi seorang wirausahawan atau entrepreneur, maka setidaknya akan selalu ada jalan untuk memulai bisnis. Nyatanya, tidak sedikit pengusaha yang telah meraih keberhasilan meski saat memulai bisnisnya dulu tanpa memiliki uang tunai.

Itu menunjukan bahwa tidak benar kalo ada yang mengatakan: “Tak mungkin kita memulai bisnis tanpa memiliki uang tunai”. Kuncinya sebetulnya terletak pada motivasi dan keberanian kita memulai bisnis yang mengebu-gebu. Hanya saja, untuk cepat meraih sukses, apalagi tanpa memiliki uang tunai, itu tidak semudah seperti kita membalikan telapak tangan. Semuanya membutuhkan perjuangan.

10/20/2009

Modal Awal Entrepreneur Itu Cuma Berani Dan Mimpi

Diposting oleh JAKDES DISTRO CLOTHING |


entrepreneurSalah satu pandangan keliru pada sebagian orang yang ingin memulai usaha tapi tak juga berani melakukan apapun untuk mewujudkannya, adalah karena mereka yakin kalau memulai usaha itu harus punya uang tunai sebagai modal awal usaha terlebih dulu. Itu keliru besar!

Sebenarnya yang paling dibutuhkan untuk memulai usaha bukan modal uang, tetapi keberanian untuk terus mencoba, memulai usaha dengan langkah nyata. Kalo perlu dengan modal mimpi. Oleh karena itu, seorang entrepreneur jangan takut bermimpi, karena mimpi kita adalah tidak lain dari bagian visi kita yang akan menjadikan cetak biru (blue print) kenyataan. Oleh karena itu, rezeki yang kita inginkan bisa mengikuti mimpi kita, bahkan dalam banyak realitas, rezeki itu berbanding lurus dengan mimpi kita.

Jadi, bila kita sudah berani untuk memulai langkah, cobalah mewujudkan ide bisnis. Entrepreneur harus pantang berhenti. Yang harus dilakukan hanyalah mencoba dan terus mencoba. Untuk itu, logis kalau kita harus berani menghadapi kegagalan berulang-ulang dan anggaplah hal itu sebagai proses belajar menuju kesuksesan. Dengan demikian yang namanya kegagalan tak pernah kita kenal dalam kehidupan kita. Oleh karena di dalam diri seorang entrepreneur tidak mengenal kamus gagal, yang ada hanyalah berhenti mencoba. Untuk meraih sukses seorang entrepreneur itu tak kenal istilah berhenti mencoba! Jadi, gagal itu biasa, terus mencoba dan berani gagal lagi itu baru luar biasa! Jangan patahkan semangat dengan mengukur kegagalan kita tapi lihatlah berapa kali kita berani bangkit dan mencoba lagi!


sumber : purdiechandra.net

10/20/2009

101 Ide Bisnis Tanpa Kantor, Apa Itu?

Diposting oleh JAKDES DISTRO CLOTHING |

Bagi anda yang belum mendapatkan pekerjaan, bosan dengan rutinitas kerja kantor dan kemacetan setiap hari, ingin memulai tantangan baru, mungkin anda bisa mulai mencoba usaha sederhana di rumah yang dapat memberikan berbagai keuntungan.

"Pertumbuhan usaha yang dijalankan dari rumah terus meningkat secara signifikan," kata perencana keuangan serta penulis buku Sulistyawati, saat peluncuran bukunya yang berjudul 101 Ide Bisnis Tanpa Kantor di Jakarta, Sabtu (6/6).

Sulistyawati mengatakan, banyak keuntungan yang didapat dengan berbisnis di rumah seperti tidak perlu menyewa tempat khusus, cukup mendesain dan mengatur ulang ruangan rumah untuk dijadikan ruang kerja sesuai yang diinginkan. "Tinggal menentukan ruang mana yang memungkinkan, bahkan ruang tidur pun bisa disulap menjadi kantor," katanya.

Selain itu, tidak perlu waktu khusus untuk berangkat ke lokasi kerja yang bisa memakan waktu berjam-jam akibat kemacetan dan dapat menghindari stres di jalan.

Keuntungan lain adalah, menghemat biaya baik untuk kendaraan, baju, sepatu, tas kerja, makan siang, dan sebagainya, serta waktu kerja yang fleksibel. "Bisa juga melakukan peran ganda seperti mengurus keluarga, serta dapat menjadi potensi peningkatan pendapatan keluarga," ucapnya.

Sedangkan kelemahan berbisnis di rumah, kata Sulistyawati, adanya perasaan terisolir dari lingkungan kerja, kesendirian, pendapatan yang tidak teratur, perasaan jenuh bekerja di tempat yang sama.

Selain itu, ada anggapan usaha di rumah sebagai pekerjaan yang tidak serius dan kurang profesional karena lokasinya di rumah dan tanpa ikatan. "Kendala lain usaha di rumah sering dilakukan tidak kosisten, banyak gangguan seperti dari anak, tetangga, serta adanya perasaan takut gagal," katanya.

Untuk itu, lanjutnya, sebelum terjun ke dalam bisnis sebaiknya mempelajari resiko dan kelemahan sehingga mampu menghadapi segala kemungkinan.

Menurut Sulistyawati, banyak ide bisnis sederhana yang banyak dibutuhkan orang. Sebagai contoh, usaha yang berhubungan dengan kamar tidur seperti produksi seprei dan bed cover, agen atau toko seprei dan bed cover. Contoh lain, yang berhubungan dengan kamar mandi seperti distributor detergen dan pembersih kamar mandi, sabun, lulur, dan peralatan mandi.

"Usaha lain yang banyak dibutuhkan khususnya kaum wanita, seperti salon, butik, penjahit, distributor busana muslim, produksi jilbab, ritel aksesoris, penjual parfum, Multi Level Marketing produk kecantikan, kerajinan aksesoris dan sebagainya," katanya.

Untuk usaha yang berhubungan dengan dapur, kata Sulistyawati, seperti toko sembako, pembuatan kue, katering, kafe, kursus memasak dan membuat kue, penyedia pembantu rumah tangga dan sebagainya.

Sedangkan yang berhubungan dengan anak, lanjut dia, seperti butik perlengkapan bayi, desainer kamar anak, jasa penitipan anak,toko mainan anak dan kado, serta kelompok bermain dan taman kanak-kanak. "Usaha lain seperti penerjemah, agen koran dan majalah, rental buku dan komputer, penulis, kreasi bunga, penyedia jasa kurir, percetakan, budidaya tanaman hias,rental sepeda motor," kata dia.

Sulistyawati juga membagi ide usaha sederhana lainya dari banyak bidang yang dapat di lakukan di rumah dengan modal yang tidak terlalu banyak dalam buku setebal 194 halaman tersebut.

Sulistyawati manambahkan, untuk memulai usaha harus diperhatikan beberapa hal, seperti apakah menyukai bisnis tersebut, adakah keahlian yang mendukung, tahu bagaimana menjalankanya, modal yang cukup, dan ada kaitannya dengan hobi. "Jika jawabannya 'ya' berarti siap memulai usaha tersebut," ucapnya.

Selain itu, harus dibuat perencanaan dan konsep bisnis yang baik, meliputi nama usaha, jenis usaha, rencana pengembangan, keuangan, cara memperoleh dan pengembalian modal, perkiraan laba rugi, rencana pemasaran dan sebagainya..

Sulistyawati juga membagikan tips bagaimana cara menjalankan usaha dan bagaimana memasarkan produk yang baik dalam buku tersebut.

Jadi sekarang anda tidak perlu lagi khawatir memulai bisnis di rumah. Silahkan mencoba...

KOMPAS.com

10/20/2009

Awali Kesuksesan dengan kebiasaan memberi.....

Diposting oleh JAKDES DISTRO CLOTHING |


Menerima sesuatu pemberian orang lain, apakah itu hadiah, sekedar pujian atau sesuatu lainnya pasti sangat menyenangkan. Tidak hanya bagi anak-anak, siapapun Anda, apakah orang tua atau masih muda, apakah orang kaya atau miskin, apakah direktur atau karyawan biasa, pemimpin atau rakyat biasa, tentu merasa senang menerima hadiah atau sesuatu dari orang lain. Apalagi kalau sesuatu itu adalah yang memang kita harapkan dan kita tunggu-tunggu, inilah momen yang paling menyenangkan. Inilah perasaan dari sisi seseorang yang menerima sesuatu pemberian orang lain.


Bagaimana dengan seseorang yang menjadi ?subjek? atau orang yang memberikan sesuatu kepada orang lain ? Perasaan apa yang dirasakannya ? Apa imbalan yang akan didapatkannya ?. Seringkali orang salah mengartikan memberikan sesuatu kemudian berharap segera mendapatkan imbalan dari orang yang diberinya. Ini adalah prinsip yang salah yang dapat menghilangkan nilai dari pemberian itu, karena tidak dilakukan dengan niat keikhlasan hati.


Prinsip kebiasaan memberi dan berbagi sesungguhnya adalah prinsip investasi kepercayaan. Karena prinsip mendahulukan memberi, bukan menunggu dan meminta adalah prinsip melepaskan energi kebaikan dari dalam diri. Ingatlah prinsip aksi min reaksi. Bahwa sebuah aksi akan menciptakan reaksi. Dan prinsip kebiasaan memberi kebaikan akan menghasilkan pula sesuatu kebaikan, yakni berupa meningkatnya investasi energi kepercayaan dari orang lain.


Dalam berbisnis, dalam bekerja sebagai karyawan, dalam berkarya, dalam melakukan berbagai bidang kehidupan, kalau Anda ingin mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan awalilah dengan kebiasaan memberi dan berbagi, bukan menunggu dan meminta. Karena kebiasaan memberi adalah melepaskan energi positif dari dalam diri. Energi ini sesungguhnya tidak pernah hilang dari muka bumi, hanya akan berubah bentuk saja.


Energi positif berupa kebaikan ini akan kembali kepada diri kita dalam jumlah yang berlipat ganda. Bisa saja dalam bentuk yang berbeda-beda, misalnya mendapatkan kebahagiaan hati, kesenangan batin, ketenangan, kemudahan hidup, rejeki, keselamatan atau ditolong orang lain. Inilah prinsip hukum kekekalan energi.

Apa sih yang harus diberikan ?

Apa sih yang harus dibagikan ?
Apakah harus uang, harta atau Perhatian ?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin terlintas dalam benak Anda.


Banyak hal yang dapat diberikan dan dibagikan kepada orang lain, tidak harus harta dan uang. Berikut ini beberapa hal kecil selain harta dan uang yang dapat dibagikan kepada orang lain sehingga dapat meningkatkan kepercayaan, contohnya:


- Memberikan perhatian yang tulus kepada orang lain
- Memberikan penghargaan kepada orang lain
- Mau mengerti penderitaan dan kesulitan orang lain
- Mau mendengarkan orang lain berbicara
- Menjadikan orang lain merasa penting dihadapan kita
- Memberikan pujian kepada orang lain
- Menolong orang yang memerlukan bantuan
- Berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan
- Mengerti perasaan orang lain
- Dll


Intinya awalilah dengan kebiasaan memberi dan berbagi, bukan menunggu dan meminta. Mengawali dengan kebiasaan memberi sebenarnya adalah mengikuti sifat-sifat mulia Allah SWT yang sudah ?built in? dalam hati kita. Yakni sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim atau Maha Pengasih dan Maha Penyayang.


Inilah prinsip memulai dengan mengucapkan niat ?Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang?. Jadikanlah hal ini sebagai kebiasaan dalam setiap memulai langkah kehidupan dan rasakan efektivitasnya dalam kehidupan Anda.

(ide bisnis dan usaha)

Subscribe